Terlaris

Brand

POLA AL QURAN Nggak Jadi Jual Perusahaan Yang Terdampak Covid

POLA AL QURAN Nggak Jadi Jual Perusahaan Yang Terdampak Covid

-POLA AL QURAN-
“Nggak Jadi Jual Perusahaan Yang Terdampak Covid”

(terinspirasi kisah guru saya, 3 bulan lalu mau jual salah satu bisnisnya senilai puluhan milyar, nggak jadi)

A’udzubillahi minasysyaithanirrajim
Bismilahirrahmanirrahim

1. Pembuka: Pertemuan Sebelum PSBB

Februari akhir/ Maret awal (saya lupa tepatnya (saat itu “relatif” masih bisa bertemu fisik), saya silaturahim ke beliau, salah satu “Guru Seterusnya” saya ????.

(saat ini sedang saya bujuk untuk berkenan jadi salah satu narasumber utama pembinaan anggota CORE - doakan beliau bisa dan punya waktu yaa ????????????????).

Saya tanya tentang bisnis beliau yang lumayan menggurita (lebih dari 50 perusahaan), dan nasib karyawannya yang berjumlah ribuan, di situasi pandemi ini.

Beliau jawab, “Yaa Kang, sudah 400 lebih karyawan terpaksa dirumahkan.
Terus bisnis yang “itu” (salah satu bisnisnya yang luarbiasa), sudah saya tawarkan untuk dijual.
Sudah ada yang siap beli sebagian kepemilikannya sekian puluh M.”

Saya, “Wah, sampai mesti begitu langkahnya?”

Beliau jawab, “Kang...situasi begini mah, semua kita kena.
Harta jangan dipusingkan.
Hilang sekarang, bisa dicari nanti.
Tapi resiko nyawa?
Resiko bisnis bisa stop?
Ikhtiar kita nih agar tetap bisa berlangsung kemaslahatan yang panjang.
Jual satu saja, nggak pake gengsi-gengsi, tapi nanti grup jadi punya kecukupan cadangan sampai 6 bulan kedepan.
Itu yang utama saat ini.
Tetap ikhtiar yang bisa kita ikhtiarkan.
Inget Kang, kekayaan itu di genggaman. Selebihnya, kita serahkan sama Allah..”
......................

Sepulang dari beliau, salah satu plan yang saya (kami) siapkan pun sama. Jika kondisi menjadi seperti “xxx”, maka (dalam hati saya), salah satu bisnis kami pun boleh jadi akan saya jual saja..
——————————

2. Hikmah Dulu

Saya mau ajak teman-teman untuk tadabbur, untuk tafakur.

Banyak hal fundamental yang terlupakan. Dimana itu justru menjadi amat sangat vital hadirnya dalam situasi serba tidak bisa ditebak seperti saat ini.

Hal mendasar tersebut banyak terlupakan. Termasuk saya, kami.. (duluuu), cukup lamaa terlena dan lupa hal mendasar ini. (Semoga tidak pernah lupa lagi selamanya..)

Sebelum ke kisah beliau, saya akan mulai dengan pemahaman logika sederhana dahulu:

1. Saat para sahabat hijrah ke Madinah, lantas mereka “memulai” karir bisnisnya, siapa guru mereka? Kok bisa dalam waktu bilangan tahun saja, beberapanya menjadi sangat TAJIR MELINTIR, bahkan jadi TRILYUNER? Apakah mereka “ikut workshop”nya trilyuner di zaman itu?

2. Saat Umar bin Khattab memimpin Islam, kekuasaan Islam meliputi nyaris 2/3 dunia, apakah ada “mentor politik dan kekuatan militer” secanggih negara adidaya saat ini di zaman itu?

3. Atau saat bidang keilmuan, ketika ulama Arab seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al Khawarisme, Ibnu Jabir, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, dll, mengajarkan dunia Arab dan dunia barat tentang ilmu kedokteran, farmasi, arsitektur, falak dan sastra? Apakah mereka kuliah di universitas terkeren selevel Harvard saat ini?

4. Dll

Pertanyaannya:

“Apa yang mereka (sahabat Trilyuner & Milyuner) lakukan, kok bisa bisnis/dagangnya NGGAK PERNAH RUGI, tapi malahan SELALU UNTUNG?
Hitungan (hanya) tahunan namun banyak yang jadi milyuner bahkan trilyuner?”

Padahal mereka sering ninggalin bisnisnya saat pergi ke medan perjuangan, yang bisa makan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan?

Padahal sehari-harinya mereka aktivitas nya padat, tidak hanya fokus bisnis/dagang, tapi juga dakwah?

Padahal mereka juga tetap memerhatikan keluarganya dan mencontohkan teladan terbaik di masyarakat?

Padahal mereka mencukupkan ikhtiar terbaiknya di siang hari? Mereka tak lantas merasa siangnya kurang hingga menambahkan waktu kerja di malam hari?

Padahal waktu “istirahat” malamnya malahan tersita banyak sebab digunakan untuk menemui “kekasih” mereka? Yaitu ALLAH ta’ala..

Padahal ritual kuantitatif dan kualitas ibadah mereka, istighfarnya dll mereka lakukan dengan bilangan terbanyak dan kualitas terbaik?
—————————-

Kenapa coba?

Mereka (para sahabat rahimahumullah ini) NURUT SAMA GURU terbaik
Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam. Nurut untuk:

Menjadikan ALLAH subhanahu wa ta’ala..sebagai TUJUAN HIDUP dan satu-satunya TUHAN yang mereka akui.

Menjadikan RASULULLAH sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai TELADAN mereka.

Menjadikan AL QUR’AN..sebagai RUJUKAN MEREKA.
—————————-

3. Back to Guru Saya

Nah, Guru saya ini selalu mengajarkan untuk “taqwa first”, Allah first, Quran first, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam first..Islam first.

Beliau selalu dan selalu menekankan, berTAQWAlah! Maka Allah akan mengajarimu! (QS 2:282).

Beliau (bahkan) nyaris nggak pernah saya temukan ikutan kelas bisnis ini dan itu, meski beliau cerdas luarbiasa dan pembelajar yang hebat (otodidak).

Ternyata perilaku beliau dan juga yang dilakukan oleh beberapa pengusaha yang saya tahu, Guru-guru saya yang lain, SAMA POLAnya.
—————————-

4. Apa POLA nya?

Posisi Beliau ini, sudah jadi Business Owner murni.
Sejak lama.
Beliau (menurut saya dan sepanjang saya cermati selama bertahun-tahun mengenal beliau), ikhtiar praktek taqwa-nya kuat banget (iri saya ????????):

1. Shalat tahajud (Qiyamul Lail) nya nyaris nggak kelewat.

2. Shalat berjamaah tepat waktu di masjid (kecuali saat dilarang sebab covid dan atau sedang sakit).

3. Shalat dhuha-nya, tiap hari.

4. Tilawah-nya selalu 1 juz per hari

5. Infak-sedekah nya MaSyaAllah. Beberapanya (saya dapat bocorannya) sekali infak bisa milyaran (belum yang rutin).

6. Istighfarnya ribuan kali per hari.

7. Shalawat nya minimal 1000 X/hari.

8. Selalu jadikan Quran sebagai rujukan dalam bertindak dan panduan dalam kesehariannya.

9. Menjadikan kehidupan Rasulullah, para sahabat dan thabit-thabi’in sebagai teladan dan pelajaran (kehidupan) yang menjadi rujukan contohnya.

10. Sangat khidmat pada orangtua dan memerhatikan kerabatnya.

11. Penyayang keluarga yang baik, entah kepada istri maupun anak-anaknya.

12. Saat di dzalimi, berlapang dada. Nggak baperan. Bahkan memaafkan pelakunya, me-ridhokan haknya (nggak nuntut) dan membantu orang yang mendzaliminya.

13. Seringnya merasa jadi hamba pendosa yang takut Allah ngga Ridho (sering kalau pas lagi asyik ngobrol tetiba menangis sebab takut dosa).

14. Optimis dan yakinnya sama Allah kuat banget. (Tawakal. Tawakal itu ikhtiar nya terbaik, lantas me”wakilkan” kepada Allah untuk selanjutnya)

15. Ikhtiar kauninya dijalankan serius, terbaik dan profesional (Membangun sistem, plus timnya di puluhan perusahaannya adalah tim yang profesional dan talent yang hebat-hebat).

16. Berjuang di jalan Allah (dakwahnya) sangat luarbiasa.

17. Istiqomah. Baik itu dalam ‘amalan yaumiyannya, menjaga aqidahnya, pun dalam mengejar cita-cita besarnya untuk makin besar manfaatnya bagi ummat. Netes..

18. Fokus membangun legacy kebaikan, ke-ummat-an. Bisnis hanya jadi “sarana” saja. Meski beliau sangat kaya, tapi tawadhu dan sederhana, mudah ditemui. Sangat baik hubungannya dengan tetangganya.

19. Selalu bahagia (murah senyum), penyabar, dan senang membahagiakan banyak orang..

20. “Keras kepala” dalam keyakinannya akan pertolongan Allah..

Eh, emang nggak ada kekurangannya?

Ada laah. Semua kita pendosa.
Beliau pun sering menyatakan bahwa dirinya banyak kurang dan banyak dosa.
Kita semua banyak kekurangan dan pendosa.

Tapi, 20 poin di atas adalah kesaksian saya sendiri yang konsisten belajar pada beliau bertahun-tahun ini.
—————————-

5. Apa yang terjadi dengan bisnisnya yang mau dijual?

Pas saya bertemu beliau baru-baru ini, sebagai murid saya laporkan keadaan kami hingga saat ini yang sangat kami syukuri dengan penuh rasa bahagia.
Lantas beliau cerita:

”Bisnis yang ‘itu’ pun nggak jadi dijual. Saat sudah ada yang minat serius, tiba-tiba PT A dapat order nyaris ratus M.
Lalu bisnis B tumbuh sangat signifikan. Trus PT C dapat proyek sekian puluh milyar, dll dst.. Nggak jadi aja si bisnis itu dijual.”

....min haitsu laa yahtasib....

MaSyaaAllah ... ????
—————————-

6. Baca Keajaiban Prosesnya

Ini relevan dengan apa yang diajarkan oleh “Guru Seterusnya” saya yang satu lagi.
Ah...saya pun ngga ngerti mesti cerita apa tentang Guru yang satu ini.
Sangat bersyukur Allah pertemukan kami dengan beliau.
Nanti deh saya tulis lagi mutiara hikmah dari beliau.
Mirip banget POLAnya.
Bedanya beliau (yang satu lagi ini) bergerak di bidang sosial, pendidikan dan dakwah, plus pemberdayaan pengusaha.
SAMA luarbiasanya.
Sama hebat dampaknya,
sama; sangat besar dan banyak aset yang dikelolanya.

(InSyaAllah beliau pun akan menjadi salah satu Guru kita di CORE nanti. Doakan yaa..)

Apa yang beliau nasihat kan?
(Lihat di lampiran yaa teman-teman
...... ????????????)

Wal afwu,

Riza Zacharias

Notes:

# Tulisan ini, yang pertama dan utama adalah sebagai pengingat kuat bagi saya, bagi kami.

# Silakan hubungkan korelasi kuatnya, dan temukan apa simpulan kita atas POLA QURAN sebagaimana oret-oretan dalam lampiran.

# Boleh simpulan teman-teman (jika berkenan) share di komen yaa.. boleh juga tulis ‘azzamnya di komen. Semoga jadi do’a yang di -aamiin-kan semua kita dan malaikat..

# Boleh di share ????????????....semoga jadi kebaikan kita bersama.

Leave a Reply

* Name:
* E-mail: (Not Published)
   Website: (Site url withhttp://)
* Comment:
Type Code