Terlaris

Brand

Pakaian Muslimah Berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah

Pakaian Muslimah Berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah



Pakaian wanita sering kali menjadi tolok ukur dari sebuah budaya dan peradaban. Banyak yang beranggapan bahwa pakaian yang bagus dan pantas dipakai oleh kaum wanita adalah pakaian yang membuat penampilan wanita tersebut menjadi diperhatikan oleh kaum lelaki. Tidak heran jika motivasi sebagian besar kaum wanita dalam berpakaian atau berpenampilan adalah ingin dianggap “wah” atau ingin dipuji orang lain, terutama oleh kaum lelaki.

Sebagai umat muslim, tentu standar berpakaian seperti di atas tidak sesuai, karena setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT dan hari akhir akan terikat dengan hukum syara’, terlepas dari suka atau tidak suka. Perlu ditanamkan pada setiap jiwa ummat muslim bahwa sumber yang dijadikan hukum Islam bukan apa yang tengah berkembang pada suatu zaman, namun zaman lah yang mengikuti aturan-aturan yang terdapat dalam hukum Islam, semaju apapun zaman itu. Islam juga bukan logika, namun Islam adalah nash, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Oleh karena itu, standar berpakaian yang digunakan oleh para muslimah adalah apa yang telah dijelaskan dalam nash, bukan tren pakaian yang tengah berkembang. Apalagi, sebagaian besar model pakaian saat ini merupakan hasil produk kebudayaan barat (mayoritas orang kafir) yang sangat tidak sesuai dengan kepribadian wanita muslimah (mengumbar aurat). Padahal, Allah SWT memerintahkan kita untuk menyelisihi kaum kafir dalam segala hal, termasuk cara berpakaian. Jika kita menuruti mode masa kini, apakah bisa dibedakan mana wanita muslim dan wanita kafir? Oleh karena itu, pembahasan tentang pakaian wanita ini akan sangat penting karena sangat berpengaruh kepada cara ia berpakaian: mana yang wajib, mana yang sunnah, dan mana yang mubah.

 

Mengapa Wanita?

Allah memberikan perhatian dan perlakuan khusus kepada wanita. Indahnya Islam telah menetapkan wanita sebagai kehormatan yang harus dijaga. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَان (الترمذي)

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud, beliau berkata dari Nabi SAW, “Wanita itu adalah aurat, hingga dia keluar maka setan mengawasinya” (H.R. At Tirmidzi)

Dalil di atas menunjukkan bahwa wanita adalah aurat. Jika ia keluar rumah, maka bisa dijadikan alat oleh syetan untuk menimbulkan fitnah, karena ketika keluar rumah, wanita memiliki kecenderungan untuk berdandan yang bisa menarik mata lelaki. Ini menunjukan wanita dipandang sebagai kehormatan yang harus dijaga dan secara implisit didorong untuk tidak banyak keluar rumah kecuali dalam kondisi yang memang diperlukan.

 

Manakah Batas Aurat Wanita?

Jika kita melakukan kajian tentang nash-nash syara’ tentang aurat wanita, maka aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali yang biasa nampak darinya, seperti muka, telapak tangan, dll. Dalil yang menunjukkan adalah Surah An-Nuur:31.

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا [النور/31]

… Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali apa yang biasa tampak dari padanya… (Q.S. An-Nuur:31)

Riwayat At-Tirmidzi juga menunjukkan seluruh tubuh wanita adalah aurot yang jika digabungkan dengan ayat diatas bisa difahami bahwa wanita wajib menutup seluruh tubuhnya kecuali yang biasa tampak darinya. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَان (الترمذي)

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud, beliau berkata dari Nabi SAW, “Wanita itu adalah aurat, hingga dia keluar maka setan mengawasinya” (H.R. At Tirmidzi)

 

Oleh karena itu aurat wanita tidak sama dengan aurot laki-laki. Jika aurot laki-laki adalah daerah antara pusar dengan lutut, maka aurat wanita lebih luas, yakni seluruh tubuhnya kecuali yang biasa tampak darinya. Wanita lebih tertutup daripada laki-laki.

 

Dengan Apa Wanita Menutup Auratnya?

Syari’at telah menentukan dua jenis pakaian yang wajib dipakai oleh wanita untuk menutup auratnya, yaitu khimar dan jilbab. Akan tetapi, tidak ada nash syara’ yang menentukan seperti apa model pakaian wanita. Nash syara’ hanya memerintahkan kepada wanita agar tidak memperlihatkan auratnya (ketika keluar rumah maupun bertemu dengan lelaki non mahrom), sehingga khimar dan jilbab  model apapun bisa dipakai. Hanya saja,  disyaratkan penutup/pakaian tersbut bisa menyembunyikan warna kulit dan lekuk tubuh, artinya dengan menggunakan penutup tersebut, warna kulit dan lekuk tubuh wanita tidak dapat diketahui, sebagaimana hadist berikut:

عَنِ ابْنِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ أَنَّ أَبَاهُ أُسَامَةَ قَالَ كَسَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُبْطِيَّةً كَثِيفَةً كَانَتْ مِمَّا أَهْدَاهَا دِحْيَةُ الْكَلْبِيُّ فَكَسَوْتُهَا امْرَأَتِي فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَكَ لَمْ تَلْبَسْ الْقُبْطِيَّةَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَسَوْتُهَا امْرَأَتِي فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْهَا فَلْتَجْعَلْ تَحْتَهَا غِلَالَةً إِنِّي أَخَافُ أَنْ تَصِفَ حَجْمَ عِظَامِهَا (أحمد)

Dari Putra Usamah Ibnu Zaid, bahwasanya ayahnya Usamah berkata, “Rasulullah SAW memberiku Qubtiyyah (pakaian dari Mesir) yang tebal. Pakaian itu adalah diantara yang dihadiahkan oleh Dihyah al-Kalbiy. Maka aku pun memberikannya kepada istriku, maka Rasulullah SAW bertanya kepadaku, ‘Kenapa engkau tidak memakai pakaian dari Mesir itu?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah aku memakaikannya pada istriku’. Maka Rasulullah SAW berkata kepadaku, ‘Perintahkanlah dia, hendaklah dia menjadikan pakaian di bawahnya pakaian dalam karena aku khawatir pakaian itu akan menampakkan lekukkan bentuk tulangnya’. (H.R. Ahmad)

Pakaian dari Mesir ini dikhawatirkan akan menampakkan menampakkan lekukan tubuh si pemakai. Maka, Rasulullah SAW memerintahkan kepada si pemakai untuk mengenakan pakaian dalam. Maksud dari pakaian dalam di sini adalah pakaian yang dipakai wanita apabila berada di dalam rumah, seperti kaos, rok, celana, hem, dan sebagainya.

Apa dalil kewajiban wanita memakai khimar dan jilbab? Apa batasan dan definisi khimar dan jilbab? Penjelasan lebih mendalam sebagai berikut:

 

Apakah Khimar dan Jilbab?

Khimar

Khimar adalah penutup kepala atau yang kita kenal dengan kerudung. Dalil yang menunjukkan keharusan wanita memakai khimar adalah Q.S An-Nuur ayat 31.

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ [النور/31]

… Hendaklah mereka memasang kerudung-kerudung mereka di atas jayid-jayid mereka… (Q.S An Nuur: 31)

Kata خُمُرِ/khumur merupakan bentuk jamak dari خمار/khimar, artinya penutup kepala. Sedangkan kata جُيُوبِهِنَّ/juyuubihinna (jaib-jaib mereka) merupakan bentuk jamak dari  حيب/ jaib. jaib adalah bagian tubuh dari bawah antara leher sampai dada. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitab beliau yang berjudul “Hijab al-Mar’ah al-Muslimah fi al-Kitab wa al-Sunnah” (Jilbab Wanita Muslimah Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah), mengatakan bahwa sebab turunnya ayat di atas adalah kebiasaan wanita pada zaman itu bila menutup kepala dengan khimar, mereka menyampirkannya ke bagian punggung mereka hingga jaibnya terlihat.

Dalil di atas menunjukkan bahwa wanita muslim wajib mengenakan kerudung, minimal yang menutup jaib, atau kerudung yang ia pakai, minimal, menutupi leher hingga dada. Jika kerudung yang dipakai tidak memenuhi syarat minimal tersebut, maka belum bisa dikatakan “kerudung syar’i”. Jika ada batas minimal, apakah juga ada batas maksimal dari kerudung? Tidak ada batas maksimal dari kerudung yang dipakai, asalkan tidak melebihi batas mata kaki (tidak sampai terseret), karena syari’at melarang hal yang demikian. Dalil tentang larangan ini akan dibahas pada bagian selanjutnya.

 

Jilbab

Dalil utama yang menunjukkan wajibnya seorang wanita muslim memakai jilbab ketika keluar rumah adalah Q.S. Al Ahzab:59.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ [الأحزاب/59]

Wahai Nabi, katakanlah pada istri-istrimu dan putri-putrimu, dan wanita-wanita kaum mukminin hendaklah mereka mengulurkan jilbab–jilbab mereka pada tubuh mereka… (Q.S. Al Ahzab:59)

Definisi kata جَلَابِيبِهِنَّ (jilbab-jilbab mereka) –dimana merupakan bentuk tunggal dari kata جِلْبَابٌ (jilbabun)- dalam Al-Qur’an Terjemah yang banyak beredar di Indonesia adalah baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, wajah, dan dada. Definisi ini serupa dengan definisi khimar yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, ada perbedaan pada bagian menutup wajah.

Harus kita ingat bahwa al-Qur’an turun dalam Bahasa Arab, oleh karena itu untuk memahami istilah-istilah dalam al-Qur’an tentunya dengan mengikuti kaidah tafsir dengan pengetahuan Bahasa Arab. Bahasa Arab yang dimaksud disini adalah Bahasa Arab yang murni/fusha, yakni bahasa Arab digunakan pada masa Rasulullah SAW hingga abad ke-4 H, karena setelah itu Bahasa Arab sudah mengalami banyak kerusakan akibat interaksi dengan bahasa non arab.

Ada tiga langkah dalam menafsirkan kata dalam Al-Qur’an. Pertama dengan mencari makna شَرْعِي/syar’i dari kata tersebut. Makna syar’i adalah makna yang digali dari nash. Salah satu contoh adalah istilah “صَلاَةً/sholat”. Secara bahasa, sholat memiliki arti do’a. Namun, secara makna syar’I dari kata “sholat” adalah sebuah perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Jika kata sholat ditafsirkan secara bahasa terlebih dahulu, maka orang akan seenaknya mengganti sholat fadhu 5 kali sehari dengan do’a 5 kali sehari. Istilah sholat merupakan istilah baru yang diajarkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW, dimana istilah tersebut belum pernah dikenal oleh kaum muslimin.

Jika makna syar’i tidak ditemukan, maka langkah kedua adalah mencari makna عُرْفِيٌ/‘urfiy atau kebiasaan. Salah satu contohnya adalah istilah غَائِطٌ/gha’ithun. Secara bahasa, ghaithun berarti tempat yang rendah. Namun, secara urfikebiasaan  kata ini digunakan untuk menunjukkan maksud “buang air”. Kata ini juga tidak pernah digunakan untuk memaknai maksud yang lain.

Selanjutnya, jika makna ‘urfiy tidak juga ditemukan, maka langkah terakhir adalah mencari makna لُغَوِيُّ/lughawiy atau makna kata tersebut secara bahasa.

Ketika para mufassir menafsirkan ayat ini (Surah Al-Ahzab ayat 59), tidak ada satu pun diantara mereka yang memaknai kata jilbab secara syar’i, karena memang tidak ada nash khusus yang mendefinisikan jilbab atau yang bisa digali darinya defiisi jilbab. Oleh karena makna syar’i tidak ditemukan, maka selanjutnya mencari makna ‘Urfy. Akan tetapi makna ‘Urfy untuk jilbab juga tidak ada, maka, selanjutnya dicari penggunaannya secara lughawiy atau bahasa.

Ibnu Hajar Al ‘Asqolani dalam syarah terhadap shahih Bukhari, “Fathul Baari”, menjelaskan bahwa kata jilbab dapat dibaca dengan dua wazan. Pertama dengan wazan سِرْدَابٌ sehingga dibaca jilbaabun. Kedua dengan wazanسِنِمَّارٌ sehingga dibaca jilibbaabun.

Beliau memaparkan bahwa ada delapan makna lughawy tentang jilbab:

1.  الْمِقْنَعَةُ/ al-Miqna’ah, yaitu sesuatu yang dibuat menutup kepala wanita serta hal-hal yang menarik dari mukanya.

2. الْخِمَار/ al-Khimaar, yaitu kerudung atau penutup kepala

3. مَا أَعْرَضُ مِنَ الْخِمَار/ Maa  a’radhu minal khimaar, yaitu sesuatu yang lebih lebar dari khimar.

4. الثَّوب الْوَاسِعُ دَوْنُ الرِّدَاء, yaitu bagian luas yang lebih kecil dari pada ridaa’ (kain yang dipakai oleh orang arab untuk melindungkan diri dari dingin)

5. الْإِزَارَ/al-Izar, yaitu selubung yang menutupi bagian bawah tubuh

6. الْمِلْحَفَةُ/al-Milhafah, yaitu pakaian yang dipakai di luar pakaian dalam untuk menutupi seluruh tubuh untuk melindungkan diri dari dingin

7.  المُلاَءَةُ/al-Mulaah, yaitu pakaian yang mirip dengan milhafah, yang berbeda adalah modelnya

8. الْقَمِيْصٌ/al-Qamiis, yaitu pakaian yang dijahit yang biasanya terbuat dari katun dan memiliki dua lengan.

Murtadha az-Zabidi (yang sangat diakui ilmu Bahasa Arabnya) dalam kamusnya yang bernama تاج العروس من جواهر القاموس/Tajul ‘arus min jawaahiri qamuus (kamus mahkota pengantin dari mutiara), yang mana kamus ini merupakan syarah dari kamus popular bernama  القوموس المحيط/ al-Qamus al-Muhith, beliau menjelaskan dengan menukil seorang ahli bahasa yang bernama Al Khafajiy, bahwa makna asal jilbab adalah milhafah, yakni pakaian yang dipakai di luar pakaian dalam untuk menutupi seluruh tubuh untuk melindungkan diri dari dingin. Dengan demikian, makna yang layak untuk memaknai Q.S Al Ahzab ayat 59 adalah milhafah.

Beberapa muffasir juga menggunakan kata milhafah untuk mendeskripsikan istilah jilbab dalam Al-Qur’an:

    Tafsir Jalalain

تفسير الجلالين (8/  91، بترقيم الشاملة آليا(

مِن جلابيبهن}جمع جلباب وهي الملاءة التي تشتمل بها المرأة

“Jalabihinna merupakan bentuk jamak dari jilbab yaitu al-Mulaah yang dikenakan oleh wanita”.

Al-Mulaah merupakan pakaian yang mirip dengan milhafah, yang berbeda adalah modelnya.

    Tafsir Ibn Katsir

تفسير ابن كثير (6/  481)

قاله الجوهري: الجلباب: الملحفة

Ibnu Katsir menukil pendapat al-Jauhari: “al-Jauhari berkata: Jilbab: al-Milhafah”

    Tafsir al-Qurthubi

تفسير القرطبي (14/  243)

والصحيح أنه الثوب الذي يستر جميع البدن.

“Dan yang benar adalah pakaian yang menutup seluruh tubuh”.

    Tafsir Fathul Qodir

فتح القدير (6/  79، بترقيم الشاملة آليا)

قال الجوهري : الجلباب الملحفة

Tafsir ini juga mengutip pendapat dari al-Jauhari: “Jilbab adalah milhafah”.

 

Dari definisi jilbab dalam  keempat tafsir tersebut menguatkan pendapat bahwa jilbab adalah milhafah, yaitu pakaian yang menutupi seluruh tubuh apabila wanita hendak keluar rumah.

Dalil yang menguatkan bahwa jilbab adalah pakaian yang dikenakan wanita apabila ia hendak keluar rumah adalah hadist yang diriwayatkan oleh Ummu ‘Athiyah:

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِى الْفِطْرِ وَالأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ. قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ « لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا ». (مسلم)

Dari Ummu ‘Athiyah beliau mengatakan, ‘Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk mengeluarkan mereka (para wanita) pada saat hari raya idul fitri dan idul adha (sholat ied). Wanita-wanita yang belum menikah dan wanita-wanita yang haid dan wanita-wanita dalam pingitan. Adapun wanita-wanita yang haid, mereka menghindari shalat, dan mereka menyaksikan kebaikan serta do’a. Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah salah seorang di antara kami tidak punya jilbab’. Rasulullah mengatakan, ‘Hendaklah saudarinya meminjami jilbab’. (H.R. Muslim)

Hadist di atas memberikan pemahaman bahwa wanita tidak wajib memakai jilbab jika berada di dalam rumah, hanya saja ketika ada laki-laki ajnabi, ia harus tetap menutup aurat.

Dari serangkaian penjelasan di atas sekaligus memberikan pemahaman bahwa lebih tepat jika difahami bahwa jilbab bukanlah kerudung, atau kerudung bukanlah jilbab. Jilbab adalah pakaian/baju yang di zaman sekarang dipahami sebagai gamis, sedangkan kerudung adalah penutup kepala. Kedua hal tersebut memang berbeda, namun dua-duanya wajib dipakai oleh wanita muslim saat keluar rumah. Untuk memberikan pemahaman lebih jauh, berikut ini akan dipaparkan seperti apa jilbab yang boleh dipakai oleh wanita muslim.

 

 

Bagaimanakah sehingga bisa dikatakan jilbab?

Muhammad Nashirudin al-Albani menguraikan 8 (delapan) kriteria jilbab wanita muslim:

1.  Menutup seluruh anggota badan selain yang dikecualikan

Dalilnya jelas, Q.S. An Nuur:31:

… وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلاَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا     …

     … Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa nampak daripadanya…

 

2.  Tidak dimaksudkan untuk tabarruj (bersolek)

Berhias adalah sesuatu yang naluriah bagi kaum wanita. Hampir setiap wanita yang keluar rumah berkeinginan untuk menghias diri sebagus mungkin dengan tujuan agar penampilannya menarik. namun syari’at Islam telah melarang wanita untuk berhias diri yang dimaksudkan menarik perhatian lelaki atau yang distilahkan dengan sebutan tabarruj sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surah Al Ahzab ayat 33:

وَقَرْنَ فِى بُيُوْتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الجَهِلِيَّةِ الْاَوَّلَى ….

Hendaklah kalian tetap tinggal di dalam rumah kalian. Dan janganlah kalian bertabarruj dengan tabarrujnya kaum jahiliyah generasi awal… (Q.S. Al Ahzab:33)

Ayat di atas dikuatkan hadist berikut:

     ثَلاَثَةٌ لاَ تُسْأَلُ عَنْهُمْ: رَجُلٌ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَعَصَ إِمَامَهُ وَ مَاتَ عَاصِيًا، وَأَمَةٌ أَوْ عَبْدٌ أَبَقَ فَمَاتَ، وَامْرَأَةٌ غَابَ عَنْهَا زَوْجُهَا: قَدْ كَفَا هَا مَؤُوْنَهُ الدُّنْيَا، فَتَبَرَّ جَتْ بَعْدَهُ، فَلاَ تُسْأَلُ عَنْهُمْ

   Ada tiga golongan yang tidak akan ditanya (karena mereka sudah pasti celaka): (1) seorang lelaki yang meinggalkan jamaah, mendurhakai imamnnya, hingga mati atas kedurhakaan itu; (2) seorang budak wanita atau budak laki-laki yang melarikan diri dari majikannya kemudian mati; (3) seorang perempuan yang ditinggal pergi suaminya, padahal suaminya itu telah mencukupinya dengan perbekalan hidup, lalu ia bertabarruj setelah kepergian suaminya itu. mereka ini tidak akan ditanya. (H.R. Hakim dan Ahmad)

Dalam Fath al-Bayan dijelaskan bahwa tabarruj adalah mendemonstrasikan perhiasan dan kecantikannya, serta apa yang mestinya dia tutup, yang dapat membangkitkan syahwat kaum lelaki. Kedua dalil diatas menunjukkan bahwa Islam sangat keras melarang tabarruj. Ayat 33 dari Surah Al Ahzab juga menegaskan bahwa wanita itu lebih utama apabila ia berada di dalam rumahnya, karena wanita adalah aurat, karena sebagian besar wanita memiliki kecenderungan untuk bertabarruj ketika akan keluar rumah. Maka, kondisi seorang wanita paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika berada di dalam rumah. Wanita hanya keluar rumah apabila memiliki urusan syar’i yang harus diselesaikan di luar rumah, contoh: kuliah, belanja, bekerja, sillaturrahim, dan setelah urusan itu selesai, hendaknya ia segera pulang.

 

3.  Tebal, tidak tipis

Menutup aurat hendaknya dengan kain yang tebal agar warna kulit  si pemakai tidak terlihat. Rasulullah SAW bersabda:

     سَيَكُوْنُ فِي اخِرِ أُمَّتِي نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ، عَلَى رُؤُوْسِهِنَّ كَأَسْ’نِمَةِ الْبُخْتِ، إِلْعَنُوْ هُنَّ فَإِنَّهُنَّ مَلْعُوْنَاتٍ

   Akan ada pada generasi belakangan umatku, kaum wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang. Di atas kepala mereka seperti ada punuk unta. Laknatlah mereka, arena mereka itu pantas dilaknat. (HR. Thabrani)

    

Al-Albani menukil pendapat Imam al-Suyuthi yang mengatakan bahwa Ibn Abdil Barr berkata, “Yang dimaksud oleh Nabi SAW adalah wanita yang mengenakan pakaian tipis, yang malah dapat menggambarkan lekuk liku tubuh, tidak menutupi dan menyembunyikan bentuk tubuhnya dengan sempurna”.

 

4.  Longgar

Hal ini telah dijelaskan dalam hadist yang dibahas sebelumnya:

مُرْهَا فَلْتَجْعَلْ تَحْتَهَا غِلَالَةً إِنِّي أَخَافُ أَنْ تَصِفَ حَجْمَ عِظَامِهَا (أحمد)…

      ‘Perintahkanlah dia, hendaklah dia menjadikan pakaian di bawahnya pakaian dalam karena aku khawatir pakaian itu akan menampakkan lekukkan bentuk tulangnya’. (H.R. Ahmad)

Maksud dari hadist di atas telah dijelaskan sebelumnya. Pakaian Qibthiyah adalah pakaian yang ikhawatirkan membentuklekuk tubuh. Rasulullah mengkhawatirkan pakaian tersebut akan menampakkan/menggambarkan lekuk tubuh wanita yang memakainya, sehingga beliau SAW memerintahkan kepada yang memakainya untuk memakai pakaian dalam (pakaian rumah). Barangkali kita akan bertanya, lalu apa manfaat mengenakan pakaian dalam tersebut?

Dalam kitab beliau, “Hijab al-Mar’ah al-Muslimah fi al-Kitab wa al-Sunnah”, Muhammad Nashirudin menjawab pertanyaan diatas, “Manfaatnya adalah menghilangkan larangan di atas karena pakaian tersebut menggambarkan ‘lekuk liku’ badan walaupun tebal. Ciri pakaian tersebut adalah lentur dan lembut di badan, seperti beberapa jenis pakaian sutera atau tenunan dari bulu domba yang sangat terkenal pada masa sekarang. Karena itulah Rasulullah SAW memerintahkan istri Usamah memakai pakaian dalam sebagai pelapis. Wallahu a’lam.”

 

5.  Tidak diberi parfum atau wewangian

Syarat selanjutnya adalah tidak memberikan parfum atau wewangian pada jilbab dan khimar. Larangan ini berdasarkan pada banyak hadist yang melarang wanita memakai parfum ketika keluar rumah. Salah satunya dari Abu Musa Al-Asy’ari yang berkata, “Rasulullah SAW bersabda:

أَيُّمَا مْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ  فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيْحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

     Siapun wanita yang memakai wewangian lantas melintasi sekumpulan orang dengan maksud agar mereka mencium baunya, ia pezina.”

Hadist di atas diriwayatkan oleh Nasai, Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim, Ahmad, Ibn Khuzaimah, dan Ibn Hibban. Kualitasnya dalah shahih. Adapun kata, “… ia pezina” menunjukkan pengharaman karena terdapat larangan yang keras hingga menghukumi wanita yang memakai wewangian sebagai pezina. Para ulama berpendapat bahwa larangan memakai wewangian dikarenakan dapat membangkitkan gejolak syahwat.

 

6.  Tidak menyerupai pakaian laki-laki

Wanita muslimah diharamkan memakai pakaian yang menyerupai pakaian laki-laki. Dari Abu Hurairah yang berkata:

لَعْنَ رَسُوْلُ الله صَلَى الله عَلَيْهِ وَسَلَم الرَّجُلَ يَلْبَسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةَ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لُبْسَةَ الرَّجُلِ

Rasulullah SAW melaknat seorang lelaki yang memakai pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian laki-laki. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibn Majah, Hakim, dan Ahmad).

Juga hadist berikut:

عَنْ ابْنُ أَبَّسْ قَالَ لَعْنَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَمَ الْمُخَنِّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَقَالَ : أُخْرُجُوْهُمْ مِنْ بُيُوْتِكُمْ . قَالَ: فَأَخْرَجَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ فُلَانًا وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلَانًا

Dari Ibnu Abbas, berkata bahwa Nabi SAW melaknat laki-laki yang berperilaku kebanci-bancian, dan wanita yang berperilaku kelaki-lakian. Kata beliau selanjutnya, “Usirlah mereka dari rumah kalian!” Nabi pun mengusir Fulan dan ‘Umar juga mengusir Fulan. (Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, Darimi, Ahmad, dan Tirmidzi).

Dari kedua dalil di atas, jelas bahwa ada larangan yang keras/pengharaman, yang ditunjukkan oleh kata “la’nat”, bagi wanita yang menyerupai laki-laki, baik dari pakaian maupun perilakunya, begitu juga sebaliknya. Pakaian yang dimaksud disini bukan hanya yang berupa baju saja, tapi juga segala aksesoris yang melekat di tubuh kita, termasuk sandal. Terdapat sebuah riwayat yang melarang dipakainya na’lun (sandal yang disesain untuk laki-laki) oleh perempuan.

Dari Ibn Abi Mulaikah, yaitu Abdullah Ibn Ubaidillah, berkata, “’Aisyah r.a pernah ditanya, ‘Bolehkah wanita memakai na’lun ? ‘Aisyah menjawab:

لَعْنَ رَسُوْلُ الله صَلَى الله عَلَيْهِ وَسَلَم الرَّجُلَةَ مِنَ النِّسَاءِ

     Rasulullah SAW melaknat wanita yang menyerupai laki-laki.”

Terkait larangan dalam hadist diatas, Abu Dawud berpendapat bahwa wanita boleh memakai na’lun hanya untuk keperluan berwudhu saja.

Sedangkan menyerupai perilaku yang dimaksud pada dua hadist sebelumnya adalah sifat dan gerak tubuh, bukan dalam hal berbuat kebaikan.

Muhammad Nashiruddin berpendapat bahwa terdapat dua tujuan dari dilarangnya wanita yang menyerupai laki-laki dan begitu juga sebaliknya. Pertama, untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan. Jika kita mengkaji lebih dalam lagi, Insya Allah kita akan menemukan betapa ketatnya Rasulullah SAW membedakan antara laki-laki dan perempuan, hingga beliau membenci wanita yang di tangannya tidak ada bekas inai (daun pacar). Kedua, untuk menyembunyikan diri wanita. Menyembunyikan diri yang dimaksud adalah menyembunyikan lekuk tubuh wanita dan tertutupnya seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan. Beliau juga menjelaskan bahwa keserupaan dalam urusan penampilan, niscaya akan melahirkan kemiripan dan keserupaan dalam berbuat dan berperilaku.

 

7.  Tidak menyerupai pakaian wanita kafir

Pakaian wanita muslim dilarang menyerupai pakaian wanita kafir, karena telah ditetapkan dalam syari’at bahwa umat muslim dilarang menyerupai orang-orang kafir, baik dalam persoalan ibadah, perayaan hari keagamaan, sampai masalah pakaian. Umat muslim harus memiliki ciri khas yang membedakan antara dirinya dengan orang kafir. Ada banyak nash yang menunjukkan larangan umat muslim menyerupai kaum kafir. Salah satunya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah al-Hadid ayat 16:

{أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ} [الحديد: 16]

        Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka kepada mengingat Allah, juga tunduk pada kebenaran yang telah diturunkan? Janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang diberikan kitab kepada mereka sebelumnya, lalu berlalu waktu yang panjang atas mereka, jati mereka malah mengeras, dan banyak diantara mereka yang fasiq. (Q.S. Al Hadid:16)

Syaikhul Islam menyebutkan bahwa kalimat, “janganlah mereka menjadi” merupakan larangan mutlak menyerupai kaum kafir. Sedangkan Ibn Katsir pada saat menafsirkan ayat tersebut mengatakan, “Karena itulah Allah melarang orang-orang yang beriman menyerupai mereka (kaum kafir-pen) dakan sedikitpun urusan ushlihiyah maupun furu’iyah.”

Memang tidak ada nash khusus yang menjelaskan larangan umat muslim untuk menyelesihi kaum kafir dalam hal berpakaian. Akan tetapi dalil diatas sudah jelas melarang umat muslim menyerupai kaum kafir dalam banyak hal, maka bisa dijadikan hujjah bahwa dalam hal berpakaian pun umat muslim diperintahkan untuk menyelisihi kaum kafir.

 

8.  Bukan merupakan pakaian popularitas

Nashirudin al-Albani menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pakaian popularitas adalah pakaian yang dipakai untuk tujuan mencari ketenaran di tengah-tengah manusia. Beliau menyamakan antara memakai pakaian yang mahal harganya sehingga dipakai dalam rangka berbangga diri dengan dunia dan perhiasannya, dengan memakai pakaian yang murah dalam rangka untuk menampak-nampakkan kepada orang lain betapa sederhananya dirinya (untuk riya’). Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ لَبِسَ شَهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللهُ ثَوْبَ مُذِلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ أَلْهَبَ فِيْهِ نَارًا

Siapa memakai pakaian popularitas di dunia, Allah pakaikan untuknya pakaian yang menghinakan di hari kiamat. Kemudian Allah nyalakan api neraka yang melahab untuknya. (H.R. Abu Dawud dan Ibn Majah)

Isnad hadist di atas dinyatakan hasan dengan para perawi yang tsiqoh.

 

Para wanita muslim yang dimuliakan Allah Ta’ala, Jilbab dan kerudung merupakan pakaian wanita muslim yang diperintahkan oleh-Nya demi menjaga para muslim sebagai kehormatan yang harus dijaga. Jika diantara kita terjadi ikhtilaf/perbedaan tentang pakaian bagi wanita muslim, hendaknya kita mengambil pendapat yang paling kuat, berdasarkan nash, bukan berdasarkan hawa nafsu kita belaka. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

* Name:
* E-mail: (Not Published)
   Website: (Site url withhttp://)
* Comment:
Type Code