Terlaris

Antara Dakwah, Trend Hijab dan Kewajiban

               

Antara Dakwah, Trend Hijab dan Kewajiban

FENOMENA hijab saat ini sedang booming, dimana-mana dapat kita jumpai wanita berhijab. Bahkan trend hijab saat ini didukung oleh industri fashion yang semakin kompleks, mulai dari pilihan warna yang elegan, motif yang indah serta beragam model yang dapat menarik perhatian.

 

Meski di tahun-tahun sebelumnya hijab ini masih terlihat asing di tengah masyarakat apalagi di kalangan remaja yang menganggap bahwa mengenakan hijab itu terkesan kuno, tua dan sebagainya. Berbeda di tahun sebelumnya, di tahun 2017 ini hijab menjadi trend fashion di berbagai kalangan dari yang muda sampai lanjut usia. Semua ini bukan hal yang kebetulan semua orang kini dapat mengenal hijab, khususnya hijab syar’i yang pada hakikatnya adalah pakaian taqwa yang merupakan salah satu kewajiban seorang muslimah sebagai konsekuensi dari keimanan dan identitas diri agar dapat dengan mudah dikenal.

 

Mengapa sekarang hijab ini menjadi trend fashion? Karena memang sudah saatnya, keberhasilan dakwah Islam terkait hijab sudah diterima oleh sebagian besar masyarakat. Namun apakah di tahun yang akan datang dan tahun-tahun selanjutnya trend hijab akan terus berjaya? Semua tergantung kepada pemahaman yang diadopsi oleh kaum wanita. Jika hijab dipahami sebagai trend busana, maka dengan sendirinya semua akan berubah sesuai dengan trend fashion yang akan datang. Tapi jika hijab ini dipahami sebagai kewajiban seorang muslimah kepada sang Penciptanya, sudah menjadi suatu keniscayaan walau tahun berganti dan trend fashion berubah setiap muslimah tidak akan melepaskan hijab itu dari tubuhnya.

 

Menuju kiblat trend fashion dunia 2020, muslimah Indonesia adalah kiblatnya. Maka untuk itu perlu diluruskan salah kaprah terkait pemahaman hijab. Dimana hijab adalah singkatan dari Khimar dan Jilbab. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nur ayat 31 : “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumurnya ke dadanya…”

 

Jadi, khimar alias kerudung harus diulurkan sampai ke dada. Itulah syarat kerudung sesuai syar’i. Berbeda dengan jilbab, Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat : 51 : ”Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anal-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu.”

 

Ada kata ‘ulurkanlah jilbab keseluruh tubuh”, artinya jilbab itu pakaian penutup tubuh, bukan penutup kepala. Dan definisi diatas tidak bisa ditukar dengan kerudung, karena dalam bahasa arab kerudung adalah khimar. Jadi, hijab adalah (khimar dan jilbab) itu dua hal yang berbeda, dan pemahaman inilah yang harus kita sampaikan kepada dunia sebagai bentuk solidaritas kita pada hijab syar’i sekaligius menjadikannya trend global.

 

Walhasil, hijab bukan sekadar trend ya sob, tapi kewajiban yang harus dilaksanakan sama halnya seperti sholat, puasa, zakat dan kewajiban lainnya yang jika ditinggalkan akan mendapat dosa. Jadi mulai sekarang jangan tertukar lagi antara khimar dan jilbab.

 

Karena berhijab bukan hak asasi yang dapat dipilih sesuka hati melainkan kewajiban yang harus ditaati. []