Terlaris

Inilah Amalan yang Lebih Utama Dari Shalat, Puasa dan Sedekah

 

 

Inilah Amalan yang Lebih Utama Dari Shalat, Puasa dan Sedekah

 

 

Di dalam Islam, ada dua keteraturan hubungan yang sudah jelas diamanahkan pada kita semua agar senantiasa menjaganya. Hubungan yang pertama ialah antara hamba dengan Allah Subhanahu wa ta’ala, sedangkan hubungan kedua ialah antara manusia dengan sesamanya.

 

Keteraturan ini semestinya saling menunjang satu dengan yang lain. Tidak akan bisa seorang manusia hanya memilih salah satu dan menginggalkan satu yang lainnya. Sebab Islam tidak punya pilihan selain terus berupaya menjaga keduanya.

 

Menjaga hubungan vertikal dengan Allah sudah sewajibnya dijalankan. Tidak ada tanggungjawab yang dibebankan kepada manusia selain hanya untuk terus mengabdi pada Sang Pemilik Kehidupan.

 

Ibadah ditingkatkan, kesempatan hidup dimaksimalkan. Ibadah dalam perspektif yang luas, bukan hanya ritual fisik, tetapi keseharian juga semestinya dikerjakan hanya mengharap pada ridha Allah semata.

 

 

Apa-apa yang kita lakukan di muka bumi ini tidak lain adalah wujud dari makna ibadah yang dengannya dapat mengantarkan kita pada catatan amal kebaikan.

 

Meski hari ini kita masih sering menyaksikan betapa banyaknya manusia yang dengan sengaja, secara terang-terangan ingkar pada Allah. Mengaku muslim, tetapi masih enggan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

 

Mengaku mukmin, tetapi masih seringkali percaya dan memohon bantuan pada dzat selain Allah. Tidak meyakini Allah sebagai sebaik-sebaik tempat meminta pertolongan.

 

Mengaku beragam, tetapi akhlak dan budinya justeru tidak sebagaimana yang dicontohkan oleh baginda Nabiullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Selain terus berusaha menjadi hamba yang taat dan dekat dengan Allah, ada jalinan hubungan lain yang keberadannya tidak boleh ditinggalkan. Ialah menjaga hubungan baik kepada sesama manusia.

 

Tidak bisa dipungkiri, manusia diciptakan ke muka bumi ini dengan fitrah sebagai makhluk yang tidak sempurna, makhluk yang untuk meneruskan kehidupan mesti membutuhkan pertolongan orang lain.

 

Sekuat dan sehebat apa pun manusia, tidak mungkin melakukan segala sesuatunya sendirian. Ia pasti perlu peran orang lain, semisal orang tua, saudara, kerabat dan tetangga.

 

Islam dengan sangat terperinci mengatur bagaimana seharusnya manusia berhubungan dengan masing-masing jenis “orang lain” itu.

 

Kepada orang tua, sudah sewajibnya membaktikan diri, sebab jasa-jasa mereka sungguh tidak akan pernah terbayar meski kita hadiahkan segunung berlian, se-samudera keping emas, se-danau uang tunai. Keberadaan mereka sungguh vital dalam kehidupan kita.

 

Melalui rahim wanita yang kita panggil ibu itulah dikandungnya janin kita sembilan bulan sepuluh hari. Ditaruhkannya nyawa untuk bisa menghadirkan kita ke muka bumi ini.

 

 

Di habiskannya separuh usianya untuk merawat dan membesarkan kita, yang belum tentu bisa membalas kebaikan-kebaikan itu. Dari pundak ayah kita bersumber penghidupan, kecukupan biaya untuk membeli kebutuhan sehari-hari kita.

 

Bersusah payah bekerja, tak kenal waktu bahkan rasa lelah pun sudah menyerah menggerogoti usahanya. Ia terus bergerak mencari serpihan-serpihan rezeki yang Allah limpahkan dan tebar di seantero muka bumi.

 

Dengan tetangga, sudah sepatutunya kita membangun hubungan yang harmonis, terjaga dari segala bentuk perselisihan dan permusuhan. Dengan teman, upayakan agar terjalin hubungan ukhuwah yang berdasar pada tali-tali agama Allah.

 

Agar kelak tumbuh rasa saling mencintai tersebab Allah, hingga syafa’at saudara seiman akan dapat dinantikan jika kelak di akhirat kita tergelincir pada jurang api neraka.

 

Betapa teramat penting menjaga hubungan horizontal atau sosial kepada sesama manusia. Meski tidak jarang manusia justeru seperti mencari-cari lawan dalam kehidupan, menebar permusuhan.

 

Ketaatan tidak lantas membuatnya rendah hati pada sesamanya, tetapi justeru semakin membuatnya meninggi dan merasa paling di antara yang lainnya.

 

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dwud, Tirmidzi dan Ibnu Hibban, dikisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang suatu amalan yang lebih utama daripada derajat shalat, puasa dan sedekah? Yaitu menciptakan kedamaian, (merukunkan) antar manusia sebab kerusakan hubungan di antara manusia adalah pembinasa agama”

 

Sungguh keras teguran Rasulullah pada kita, manusia-manusia yang hanya fokus pada kehidupan vertikalnya, sedang pada saat yang sama melupakan urgensi kehidupan sosialnya.

 

Merasa ahli ibadah, sehingga enggan memulai percakapan, gengsi merajut jalinan ukhhuwah dengan orang yang di anggap tidak sederajat dengan dia. Karena sudah sempurna rukun Islam dikerjakan, merasa paling taqwa, paling dekat dengan Allah.

 

Hingga sikap kesehariannya dipenuhi sifat menyepelekan dan merendahkan orang lain. Enggan bertetangga, tidak sudi bersosialisasi.

 

Ada manusia-manusia seperti ini, yang di dalam hatinya dipenuhi perasaan dekat dengan Allah, merasa bertaqwa, padahal kelak ia akan dinistakan di akhirat sebab tingkah-polahnya saat hidup di dunia.

 

Melihat beberapa fenomena hari ini, maka setidaknya ada empat golongan manusia yang bisa dijelaskan makna hadist di atas;

 

Manusia yang Baik Hubungannya Dengan Allah, Baik Pula Dengan Manusia

Bukankah dalamnya pemahaman beragama, tingginya ilmu yang didapat akan semakin membuat kita santun dalam berkehidupan. Halus dalam bicara, lembut dalam bertingkah laku.

 

Perhatikanlah para ulama yang secara ketaatan berada sangat jauh di atas kita, justeru lisannya mendamaikan hati, perilakunya santun dan berbudi. Hatinya merendah dan tidak meninggi, sebagaimana kita yang baru punya ilmu sekeping koin, sudah merasa mampu membeli surga.

 

Berbeda dengan kita yang masih lebih berat timbangan dosa dari amal kebajikan, sudah merasa percaya diri seperti ada jaminan akan masuk ke dalam surga. Kita yang teramat sombong sebab merasa paling taat, padahal hisab masih sangat menegangkan.

 

Maka semakin baik hubungan seseorang dengan Allah, maka semakin baik pula akhlak dan budinya kepada sesama manusia. Bagaimana Rasulullah yang tidak malu membantu pekerjaan istrinya, tidak segan menolong umatnya, menyuapi makanan dan sebagainya. Lantas siapa kita yang berlagak seolah-olah melebihi ketaqwaan Rasulullah.

 

Manusia yang Baik Hubungannya Dengan Allah, Tetapi Tidak Dengan Sesama Manusia

Banyak manusia mengira jika hidup ini hanya melulu soal ibadah vertikal kepada Allah. Terus menerus meningkatkan amalan, hingga tidak sekali pun peduli pada jalinan hubungan ke sesama manusia.

 

Dipikirnya jika baik hubungannya dengan Allah, sudah selesai semua perkara. Akan seketika selesai juga masalahnya dengan sesama manusia.

 

Maka perhatikanlah, seberapa pun dosa kita kepada Allah, senista apa pun diri kita di hadapan Allah, jika kita bertaubat dan memohonkan ampun kepada-Nya, Allah pasti ampunkan.

 

Tetapi tidak demikian pada sesama manusia, jika kita memiliki kesalahan kepada saudara, teman, kerabat, tidak akan turun ampunan sebelum kita secara langsung memohonkan maaf kepadanya.

 

Ini teramat penting bagi kita, yang tidak akan pernah luput dari khilaf dan dosa kepada sesama manusia. Ada kata-kata yang secara tidak sengaja menyakiti, ada perbuatan yang mendzalimi.

 

Maka karenanya, para ulama mengajarkan, janganlah tidur di malam hari sebelum mintakan maaf kepada setiap manusia yang sekiranya kita berbuat kesalahan kepadanya. Jangan sampai Allah cukupkan usia kita, sedang masih terganjal dosa dan kekhilafan yang belum terselesaikan.

 

3 Manusia yang Tidak Baik Hubungannya Dengan Allah, dan Hanya Baik Pada Sesama Manusia

Jangan pikir tidak ada manusia jenis ini, justeru tidak sedikit adanya di sekitar kehidupan kita. Hubungannya kepada sesama manusia amat baik, ia dikenal sebagai seorang dermawan, suka membantu sesama, ringan tangan menolong yang membutuhkan.

 

Tetapi dibalik itu semua, justeru ia punya masalah yang teramat besar dengan Allah. Sebagian hidupnya tidak digunakan untuk menyembah dan berbakti pada Allah.

 

Justeru kesehariannya dipenuhi aktivitas kemaksiatan dan kemungkaran pada ajaran-ajaran Islam. Maka sungguh akan merugi manusia-manusia demikian ini.

 

Meski mereka berpikir jika amal kebaikan yang bersumber dari hubungan baik kepada sesama manusia sudah cukup dijadikan bekal, tetapi ingkarnya ia untuk mengabdi pada Allah akan membuka pintu-pintu siksa yang teramat pedih.

 

Manusia yang Tidak Baik Hubungannya Dengan Allah, Tidak Baik Juga Kepada Sesama Manusia

Inilah manusia yang paling merugi dan lalai. Apalagi yang akan ia harapkan bisa menolongnya di hari perhitungan jika perilaku dan aqidahnya demikian.

 

Sudah mengabaikan ibadah pada Allah, merusak hubungan ke sesam manusia. Mau diapakan kesempatan hi dup ini? Tidakkah takut pada ancaman siksa Allah yang tiada satu orang pun sanggup melewatinya.

 

Tidakkah takut betapa mengerikannya sakaratul maut. Tidak terbayangkan apa yang akan dijawab saat dua malaikat bertanya sesaat setelah jenazah dikuburkan. Tidak takutkah saat tiba hari pembangkitan, kita bukan termasuk orang-orang dibarisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Maka selagi ada waktu, perbaikilah segala sesuatu yang berkaitan dengan dua hal itu. Tidak perlu malu, tidak perlu gengsi. Sebab setiap manusia akan mempertanggunjawabkan apa-apa yang telah dibuatnya sendiri-sendiri.

 

Mohonlah petunjuk Allah agar kita semua senantiasa dilmudahkan dalam merawat dan meningkatkan hubungan baik, dengan Allah maupun dengan sesama manusia.

 

Sumber: hijaz.id