Terlaris

Nasehat Penting, Agar Kita Tidak Terlena dan Tertipu Oleh Pujian

 

 

Nasehat Penting, Agar Kita Tidak Terlena dan Tertipu Oleh Pujian

Seringkali banyak diantara kita yang terlena oleh pujian. Bahkan, banyak diantaranya yang akan merasa sangat tidak dihargai jika hasil pekerjaan atau pengorbanan yang telah dilakukannya tidak disambut dengan pujian. Padahal, jika kita mau mengambil pelajaran dan merenungkannya, sungguh pujian ini sangat membahayakan.

 

Bahkan, para sahabat ketika zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, memilih hidup tanpa pujian dan meminta segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa karena sangat takut hatinya dihinggapi penyakit hati berupa ujub, riya bahkan sombong sehingga tanpa disadari bisa menghapus seluruh pahala amal kebaikannya selama ini.

 

Dalam kajian seputar raqaiq (membangun kelembutan hati), kita selalu diajarkan bahwa tidak ada pujian yang berarti selain pujian Allah. dan tidak ada celaan yang berarti, selain celaan dari Allah. karena Dia-lah Dzat yang mengetahui kondisi hamba-Nya lahir bathin.

 

Allah Ta’ala berfirman,

 

 

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Jangan kalian memuji-muji diri kalian sendiri, karena Dia-lah yang paling tahu siapa yang bertaqwa.” (QS. an-Najm: 32)

 

Maka dari itu, sebagai seorang mu’min, kita harus pandai menjaga serta memperhatikan kondisi batin ketimbang harus sibuk dengan penilaian makhluk. Harus kita sadarai, manusia itu trbatas dan tentu hanya menilai berdasarkan apa yang dilihatnya, sedangkan masalah amalan hati (batin), manusia tidak punya kemampuan untuk menilai itu.

 

Doa Ketika Dipuji

Ketika dipuji, Abu Bakr berdo’a,

 

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.

 

“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al- Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ Al-Ahadits, Jalaluddin As-Suyuthi, 25: 145, Asy-Syamilah)

 

Kami tidak mengetahui adanya doa khusus dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kita mendengar pujian orang lain. Hanya saja ada riwayat dari sahabat yang membaca doa berikut ketika dia berdoa.

 

Dari Adi bin Arthah –rahimahullah – (seorang ulama Tabi’in) beliau bercerita,

 

كان الرجل من أصحاب النبي –صلى الله عليه وسلم –إذا زُكِّي، قال

“Dulu ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang apabila dia dipuji mengucapkan,

 

 

اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، واغْفِر لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ واجْعَلْنِي خَيْراً مِمَّا يَظُنُّونَ

“Ya Allah, jangan Engkau menghukumku disebabkan pujian yang dia ucapkan, ampunilah aku, atas kekurangan yang tidak mereka ketahui. Dan jadikan aku lebih baik dari pada penilaian yang mereka berikan untukku.”

 

Doa ini diriwayatkan Bukhari dalam Adabul Mufrad (no. 761) dan sanadnya dishahihkan al-Albani. Juga al-Baihaqi dalam Syua’abul Iman (4/228).

 

Berdasarkan uraian do’a tersebut, dapat kita ketahui bersama bahwa sahabat adalah manusia yang jauh dari karakter bangga dengan pujian manusia. Bahkan mereka mengakui kekurangan yang mereka miliki, yang itu tidak diketahui orang yang memuji. Dengan ini akan menghalangi kita dari potensi ujub. Dengan ini pula kita akan lebih mudah mengakui kekurangan kita.

 

Penting untuk diketahui bahwa sifat ujub itu sangat berbahaya. Sebagian ulama salaf, di antaranya Sa’id bin Jubair berkata,

 

إنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَيَدْخُلُ بِهَا النَّارَ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ السَّيِّئَةَ فَيَدْخُلُ بِهَا الْجَنَّةَ يَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَيُعْجَبُ بِهَا وَيَفْتَخِرُ بِهَا حَتَّى تُدْخِلَهُ النَّارَ وَيَعْمَلُ السَّيِّئَةَ فَلَا يَزَالُ خَوْفُهُ مِنْهَا وَتَوْبَتُهُ مِنْهَا حَتَّى تُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal kebaikan malah ia masuk neraka. Sebaliknya ada pula yang beramal kejelekan malah ia masuk surga. Yang beramal kebaikan tersebut, ia malah merasa ujub (bangga dengan amalnya), lantas ia pun berbangga diri, itulah yang mengakibatkan ia masuk neraka. Ada pula yang beramal kejelekan, namun ia senantiasa takut dan ia iringi dengan taubat, itulah yang membuatnya masuk surga.” (Majmu’ Al Fatawa, 10: 294)

 

Semoga Allah Ta’alaa senantiasa melindungi dan membimbing kita dari penyakit hati yang mana bisa merusak seluruh pahala kebaikan yang selama ini telah kita lakukan.

 

Untuk lebih lengkapnya bisa disimak video berikut.

 

Wallahu a’lam bish shawab.

 

Sumber: hijaz.id