Terlaris

Kenapa Allah Membicarakan Tentang Huur (Bidadari) di Surga?

 

Kenapa Allah Membicarakan Tentang Huur (Bidadari) di Surga?

“Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik (akhlaknya) lagi cantik-cantik parasnya.” (Ar-Rahman: 70)

 

“(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dan dipingit di dalam rumah.” (Ar-Rahman: 72)

 

Pertanyaan ini mungkin muncul dalam benak kita. Kenapa diceritakan tentang hadiah wanita-wanita (bidadari) cantik dan segala macamnya? Dan kecantikan mereka juga dijelaskan. Surat ini setidaknya sedikit memberi gambaran tentang fisik mereka. Jadi kenapa?

 

 

Jawaban ini sangat mendalam. Jawabannya adalah karena seorang pemuda dalam masyarakat kita, terekspos dengan kerusakan di sepanjang waktu, dan bahwa hal yang paling ditakutkan Rasulullah pada umatnya adalah rasa tidak tahu malu. Agama kita dibandingkan agama lainnya adalah yang paling membatasi dan paling berhati-hati berkenaan dengan interaksi antara pria dan wanita, mulai dari cara berpakaian, jenis perbincangan yang bisa kau lakukan, khalwat (berduaan dengan non mahram), sampai-hal-hal ketika di perkumpulan dan sebagainya, Islam paling membatasi.

 

Jika kita membaca Surat An-Nuur, surat ini membicarakan tentang tata krama ketika seseorang mengetuk pintu untuk bertamu, mereka tidak boleh begitu saja langsung masuk ke dalam, dan membiarkan para wanita bersiap terlebih dulu dan berada di tempat yang terpisah dan sebagainya.

 

Ada tata krama yang sangat banyak, bahkan ada jam-jam di mana anakmu tidak boleh masuk ke dalam kamar, dan mereka harus mengetuk pintu dari luar, kau harus menerapkan tata krama di rumahmu untuk interaksi antar lawan jenis. Ini hal yang mengagumkan, bagaimana seorang anak laki-laki setelah umur tertentu tidak boleh tidur dalam satu selimut. Ada begitu banyak batasan tentang hal ini. Ada begitu banyak kehati-hatian tentang hal ini dalam agama kita.

 

Hal ini terkadang membuat kita bertanya-tanya, dan kemudian kebalikannya disebutkan dalam jannah (surga), bahwa seorang pemuda, dia tidak dibatasi, dia punya istri bidadari yang cantik dan istrinya itu sangat cantik di surga, dan inilah alasannya:

 

Di dunia, pemuda ini akan pergi ke kampus dan dia harus terus menundukkan pandangannya, dan di sana akan ada gadis berpakaian tidak senonoh, gadis itu akan berkata, “Hai, apa kabar?” Tapi si pemuda tidak akan menatapnya, dan dia akan berkata dalam hatinya, “Allah menyediakan yang lebih baik untukku, Allah menyediakan yang lebih baik untukku.”

 

 

Dia menjaga pandangannya, meskipun hormon dalam dirinya bergejolak, matanya menyuruhnya untuk menatap, keingintahuannya bergejolak, kesempatannya ada, kebebasannya ada, gejolak mudanya ada, energinya ada, kesempatan melihat ada, segalanya tersedia untuknya tapi dia berkata, “Tidak, aku akan bertahan, aku tidak akan melakukannnya. Aku bahkan tidak mau mengambil satu langkah ke arah itu. Allah punya yang lebih baik untukku.”

 

Semua temannya melangkah ke arah itu, tapi dia tidak dan kemudian karena keadilan Allah yang mengagumkanlah, sehingga di jannah (surga), minuman yang dilarang di dunia diberikan-Nya, kesenangan yang diharamkan, Allah sendiri menawarkannya, “Lihatlah bagaimana kau menahan dirimu. Inilah dia, nikmatilah! Silakan, Aku membuka pintu itu untukmu.”

 

Jadi ini adalah kebalikan dari batasan yang Allah tetapkan pada kita di dunia. Itulah mengapa hayaa’ (rasa malu/kesantunan) penting di sini. Kau ingin mendapatkan kesenangan di jannah (surga)? Maka kau harus memperhatikan haya’mu di sini.

 

Allah tidak mengingkari bahwa kita punya nafsu, Dia tidak mengingkari kita punya hasrat, Dia tidak mengingkari bahwa godaan menghampiri kita di sepanjang waktu. Bacalah psikologi tentang berapa kali seorang pria memikirkan tentang hal-hal yang membangkitkan hasrat dalam sehari, para umumnya pria.

 

Kau tidak bisa mengingkari ini, kau tahu dalam hal ini ada, Allah menempatkannya dalam diri kita. Tapi Allah baru membolehkan hal itu di surga. [Syahida.com/ANW]

 

Sumber: Dialog Ust. Nouman Ali Khan dengan seorang syeikh, Dr. Israr Ahmed