Terlaris

Bacalah Dua Surat Al Qur’an Ini, Dua Surat Terbaik, untuk Memohon Perlindungan pada Allah SWT

 

 

Bacalah Dua Surat Al Qur’an Ini, Dua Surat Terbaik, untuk Memohon Perlindungan pada Allah SWT

Al-Mu’awwidzatain artinya dua (surat) untuk mohon perlindungan, yakni surat al-Falaq dan surat an-Naas.

 

Muslim meriwayatkan dalam Shahiih-nya dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda:

 

 

“Tidakkah kamu memperhatikan ayat-ayat yang diturunkan malam ini, di mana sebelumnya tidak ada ayat-ayat seperti itu, yaitu, “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Shubuh (fajar),’ dan ‘Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb-nya manusia.’” 1 Hadits ini diriwayatkan juga oleh Ahmad, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i. At-Tirmidzi menyatakan bahwa hadits tersebut hasan shahih. 2

 

(Riwayat yang lain). Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata, “Ketika aku sedang memandu Rasulullah SAW di sebuah jalan dari jalan-jalan (di daerah perbukitan) itu, tiba-tiba beliau berkata kepadaku:

 

“Hai ‘Uqbah, mengapa kamu tidak ikut naik?”

 

‘Uqbah berkata, “Aku khawatir hal itu (ikut menunggangi kendaraan Nabi) merupakan kedurhakaan.” Ia berkata, “Lalu Rasulullah SAW turun dan aku naik sebentar, kemudian beliau naik, kemudian beliau bersabda:

 

“Wahai ‘Uqbah, maukah kamu aku ajarkan dua surat yang termasuk dua surat terbaik yang dibaca oleh manusia?”

 

 

Aku menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Lalu beliau membacakan untukku surat al-Falaq dan surat an-Naas. Kemudian tiba waktu shalat, beliau maju menjadi imam, lalu beliau membaca kedua surat tersebut, kemudian beliau lewat di hadapanku, lalu bersabda:

 

“Bagaimana pendapatmu wahai ‘Uqaib? Bacalah kedua surat tersebut ketika hendak tidur dan ketika bangun dari tidur.” 3 Hadits ini juga diriwayatkan oleh an-Nasa-i dan Abu Dawud. 4

 

(Riwayat yang lain). An-Nasa-i meriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir bahwa Rasulullah SAW bersabda:

 

“Sesungguhnya manusia tidak berlindung dengan sesuatu, seperti halnya dengan dua surat ini: yaitu surat al-Falaq dan surat an-Naas.” 5

 

(Riwayat lain). An-Nasa-i meriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata, “Ketika aku berjalan bersama Rasulullah SAW, beliau bersabda:

 

‘Hai ‘Uqbah, bacalah.’

 

Aku bertanya, ‘Apa yang aku baca?’ Lalu beliau terdiam, kemudian beliau bersabda: ‘Bacalah.” Aku berkata, ‘Apa yang aku baca wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda: ‘{ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ} ‘Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai shubuh (fajar).’ Lalu aku membacanya sampai akhir surat.

 

Kemudian beliau bersabda, ‘Bacalah.’ Aku berkata, ‘Apa yang aku baca wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda:’{ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ} ‘Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb-nya manusia.’”

 

Maka aku membacanya sampai akhir surat. Kemudian Rasulullah SAW bersabda ketika itu:

 

“Tidak ada seorang pemohon, yang memohon seperti halnya dengan kedua surat ini.” 6 Dan tidak ada seseorang yang meminta perlindungan, seperti halnya dengan kedua surat tersebut.” 7

 

(Hadits yang lain). An-Nasa-i meriwayatkan dari Ibnu ‘Abis al-Juhani bahwa Nabi SAW bersabda kepadanya:

 

“Hai Ibnu ‘Abis! Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu -atau: maukah kamu aku beritahukan kepadamu – tentang bacaan yang paling utama yang dibaca oleh orang-orang yang berlindung?’

 

Ibnu ‘Abis menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda:

 

“(Yaitu): ‘Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai shubuh (fajar).’ Dan, ‘Aku berlindung kepada Rabb-nya manusia.’ Inilah dua surat (untuk mohon perlindungan)” 8

 

Imam Malik meriwayatkan dari ‘Aisyah, bahwa apabila Rasulullah SAW sakit, beliau membaca al-Mu’awwidzatain 9 atas dirinya dan beliau meniupkannya. Ketika sakitnya semakin bertambah parah, maka aku membacakannya untuk beliau, dan aku usapkan kepada beliau dengan tangan beliau sendiri untuk mengharapkan barakahnya.” 10 Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, Abu Dawud, an-Nasa-i dan Ibnu Majah. 11

 

Diriwayatkan dari Abu Sa’id, bahwa Rasulullah SAW berlindung dari ‘ain 12 jin dan ‘ain manusia. Ketika turun surat al- Mu’awwidzatain, beliau berlindung dengan membaca kedua surat tersebut dan meninggalkan yang lainnya.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, an-Nasa-i dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi menyatakan bahwa hadits tersebut hasan shahih. 13 [Syahida.com/ANW]

 

=======

 

Catatan kaki:

 

1 Muslim (I/558). [Muslim (No. 814)].

 

2 Ahmad (IV/144), [Ahmad (No. 17370), sanadnya shahih atas syarat asy-Syaikhain, Musnad Imam Ahmad, tahqiq Syaikh Syu’aib al-Arna-uth dan kawan-kawan, cetakan Mu-assasah ar-Risalah, Beirut] Tuhfatul Ahwadzi (IX/303) dan an-Nasa-i (VIII/254). [At-Tirmidzi No. 2902)].

 

3 Ahmad (IV/144), [Ahmad (No. 17295), sanadnya shahih, Musnad Imam Ahmad, tahqiq Syaikh Syu’aib al-Arna-uth dan kawan-kawan, cetakan Mu-assasah ar-Risalah, Beirut]

 

4 Abu Dawud (II/152) dan an-Nasa-i (VIII/252, 253). [Abu Dawud (No. 1462)].

 

5 Al-Kunaa karya ad-Dulabi (I/106). [An-Nasa-i dalam as-Sunanul Kubraa (No. 7856)].

 

6 [Maksudnya, memohon dengan kedua surat ini adalah yang terbaik. Tidak ada yang seumpama dengan dua surat ini dalam khasiatnya].

 

7 An-Nasa-i (VIII/253).

 

8 An-Nasa-i (VIII/251).

 

9 [Artinya dua surat untuk mohon perlindungan, yaitu al-Falaq dan an-Naas].

 

10 Al-Muwaththa’ (II/942).

 

11 Fat-hul Baari (VIII/679), Muslim (IV/1723), Abu Dawud (IV/220), an-Nasa-i dalam al-Kubraa (IV/867 dan 368) dan Ibnu Majah (II/1166). [Al-Bukhari (No. 5016), Muslim (No. 3902), Abu Dawud (No. 3902), an-Nasa-i (No. 7549) dan Ibnu Majah (No. 3529)].

 

12 [‘Ain berarti mata, yang dimaksud di sini adalah tatapan mata jahat karena rasa dengki. Sebenarnya ada yang membedakan antara tatapan dengki dengan ‘ain, seperti yang telah dijelaskan dalam surat al-Qalam. ‘Ain (pandangan mata seseorang) dapat menyebabkan penyakit, kerusakan atau kebinasaan pada apa yang dilihatnya, baik diri sendiri, orang lain, atau binatang dan benda mati. ‘Ain memiliki perbedaan yang jelas dengan hasad (dengki).

 

Jika hasud (dengki) timbul karena rasa benci dan mengharapkan kenikmatan pada orang lain hilang, maka ‘ain timbul karena rasa kagum, membesar-besarkan sesuatu atau membaik-baikkan sesuatu.

Jika manusia tidak dapat mendengki dirinya sendiri, maka manusia dapat meng-‘ain dirinya sendiri atau harta miliknya sendiri.

Jika hasud hanya dimiliki oleh pribadi yang buruk, maka ‘ain dapat dimiliki oleh pribadi yang shalih ketika ia mengagumi sesuatu (tanpa berkeinginan hilangnya kenikmatan yang mengagumkannya tersebut dari orang yang dilihatnya), sedangkan dia lupa bertasbih kepada Allah SWT dan mendoakan keberkahan pada apa yang dikaguminya itu. Seperti inilah, ‘ain yang terjadi pada diri ‘Amir ketika memandang Sahl, sehingga Sahl terjatuh pingsan akibat pandangan ‘Amir. Riwayat tentang keduanya telah diterangkan di surat al-Qalam.

Ada satu kesamaan antara ‘ain dan hasad, yaitu keduanya sama-sama menimbulkan kemadharatan bagi korbannya. Wallahu’alam].

 

13 Tuhfatul Ahwadzi (VI/218), an-Nasa-i (VIII/271) dan Ibnu Majah (II/1161). [At-Tirmidzi (No. 2058) dan Ibnu Majah (No. 3511). Hadits shahih, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jamii’ (No. 4902)].

 

=====

 

Sumber: Kitab Shahih Tafsir Ibnu Katsir jilid 9, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir